Lagibuka buka document dan… nemu cerita iniiii…
tadinya masih separo dan gue edit + lanjuti.. jadi dehhhh.. agak alay sih, gila
tulisan jaman smp men. Aku jadi malloo
Check this out gaees J
Laki-laki itu masih disana, menatap kosong di
depan layar TV yang terang, memperlihatkan tontonan yang tidak perlu. Laki-laki itu diam tak bergerak, seperti
manekin dalam etalase kaca, seperti tak bernyawa.
Berulang kali gadis
disebelahnya mengajak tertawa atau sekedar bicara panjang lebar, macam pohon yang
pasti akan gugur daunya, tentang kemacetan jalan dan banyak lelucon yang tak
lucu. seperti rutinitasnya di tiap pagi yang
membosankan. Memang seperti itu kan manusia?, bermain, menonton
tv, baca koran, hingga mereka akhirnya dihadapkan pada titik jenuh. yang
mengakhiri semuanya, atau bahkan mengawali segalanya.
Ini bukan apa-apa,
ini cerita tentang bagaimana rutinitas itu menjelma menjadi sesuatu yang terasa
membebankan. Dunia tanpa arah. Langit tak berwarna. Bayang sendu dalam kaca.
Topeng topeng tanpa
ekspresi.
Semuanya memuakkan.
Hingga akhirnya harus berhenti, dan mulai untuk bergerak mencari kebesan. Apakah
dunia itu ada? Kebebasan?
Kalau bebas itu
berarti berjalan, mungkin ia akan belajar menikmati ketidak bebasannya.
Bab 1
“Saatnya
makan” Seorang gadis mengadu sendok dengan piring berkali-kali, menimbulkan
suara yang cukup keras. Senyum ceria terukir di bibir gadis itu. Sedangkan yang
di ajak bicara hanya diam, memandang keluar dengan tatapan kosong. Nafasnya
teratur tapi terdengar menyakitkan. Langit menghitam diluar, awan tebal sedang
berusaha menutup wajah berserinya. Lambat laun percik-percik air jatuh ke bumi. Bersatu
dengan tanah, menimbulkan bau yang khas. Aroma petrichor.
Laki-laki itu menyentuhkan jemarinya ke kaca jendela yang
ada didepannya. Merasakan sesuatu dari titik-titik air yang menempel di
permukaan kaca tersebut. Syarafnya ‘mengecap’, merambat semakin jauh, mengalirkan
sengatan kecil keotaknya, inderanya bekerja baik.
Dingin, Ia merasakannya.
“Dulu pas hujan
gini kan?” katanya sambil menerawang. Suara pertamanya untuk hari ini.
Diamnya sibuk mengumpulkan sisa-sisa memori yang tergeletak begitu
saja dilorong-lorong ingatan. Sudah lama tak
tersentuh. Berdebu dan agak usang. Tapi tetap menjadi hal yang kadang berusaha ia jaga.
Seperti air dalam
pipa pembuangan yang ditarik sumbatnya. Memorinya muncrat begitu saja.
“Mungkin kalo saya nggak pergi waktu itu, kamu nggak akan
berakhir disini” sebuah senyum mulai terukir dibirnya. Bukan kenangan indah memang, tapi ia
bosan untuk ekspresi sedih. Senyum rasanya pantas.
“ngurusin ‘sampah’
gini” Laki-laki itu mencoba menahan tawanya agar tak menyembur keluar. Geli terhadap keadaannya sendiri.
“Kamu capek-kan?” pandangan laki-laki itu beralih ke gadis disampingnya. Yang ditatap
diam. Gadis itu tidak membantah, tidak juga meng-iya-kan. Ini semua menjadi rutinitas.
Kebiasaan yang berputar pada porosnya. Memaksanya untuk terus berjalan.
“Mungkin” Cuma
jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Ia tidakingin mengingkari. Kadang gadis
itu merasa jenuh dengan semua. Memaksakan senyum ceria disetiap pagi. Agar suasananya lebih gembira. Tapi tak pernah berhasil. Sedikitpun tidak.
Laki-laki
didepannya makin mengembangkan senyum. Merasa puas karna gadis didepannya ini
tidak membantah ucapannya. “oke, mulai sekarang kamu bisa
berenti” berat, tapi
keduanya takbisa apa-apa.
“Lalu bagaimana
denganmu?” Gadis itu menatap si laki-laki bingung dengan campuran rasa khawatir
diakhir kalimatnya.
“Aku?
Aku akan hidup tentusaja”
Si
gadis makin mengerutkan keningnya, tapi tangannya terjulur ragu dengan semua
jari terkepal menyisakan jari kelingkingnya sendirian. Pinky promise.
“Bahagia?”
“Bahagia”
Laki-laki itu mengaitkan kedua kelingking mereka.
Dari
semua itu. Si gadis hanya igin lakilakinya bahagia. Dan mungkin jika sendiri,
bhagia itu akan muncul.
Entahlah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar