Minggu, 31 Mei 2015

entahlah ---- fiksi



Lagibuka buka document dan… nemu cerita iniiii… tadinya masih separo dan gue edit + lanjuti.. jadi dehhhh.. agak alay sih, gila tulisan jaman smp men. Aku jadi malloo

Check this out gaees J


Laki-laki itu masih disana, menatap kosong di depan layar TV yang terang, memperlihatkan tontonan yang tidak perlu. Laki-laki itu diam tak bergerak, seperti manekin dalam etalase kaca, seperti tak bernyawa.

Berulang kali gadis disebelahnya mengajak tertawa atau sekedar bicara panjang lebar, macam pohon yang pasti akan gugur daunya, tentang kemacetan jalan dan banyak lelucon yang tak lucu. seperti rutinitasnya di tiap pagi yang membosankan. Memang seperti itu kan manusia?, bermain, menonton tv, baca koran, hingga mereka akhirnya dihadapkan pada titik jenuh. yang mengakhiri semuanya, atau bahkan mengawali segalanya.

Ini bukan apa-apa, ini cerita tentang bagaimana rutinitas itu menjelma menjadi sesuatu yang terasa membebankan. Dunia tanpa arah. Langit tak berwarna. Bayang sendu dalam kaca. Topeng topeng tanpa ekspresi.

Semuanya memuakkan. Hingga akhirnya harus berhenti, dan mulai untuk bergerak mencari kebesan. Apakah dunia itu ada? Kebebasan?

Kalau bebas itu berarti berjalan, mungkin ia akan belajar menikmati ketidak bebasannya.


Bab 1
                “Saatnya makan” Seorang gadis mengadu sendok dengan piring berkali-kali, menimbulkan suara yang cukup keras. Senyum ceria terukir di bibir gadis itu. Sedangkan yang di ajak bicara hanya diam, memandang keluar dengan tatapan kosong. Nafasnya teratur tapi terdengar menyakitkan. Langit menghitam diluar, awan tebal sedang berusaha menutup wajah berserinya. Lambat laun percik-percik air jatuh ke bumi. Bersatu dengan tanah, menimbulkan bau yang khas. Aroma petrichor.

Laki-laki itu  menyentuhkan jemarinya ke kaca jendela yang ada didepannya. Merasakan sesuatu dari titik-titik air yang menempel di permukaan kaca tersebut. Syarafnya ‘mengecap’, merambat semakin jauh, mengalirkan sengatan kecil keotaknya, inderanya  bekerja baik.

 Dingin, Ia merasakannya.
               
“Dulu pas hujan gini kan?” katanya sambil menerawang. Suara pertamanya untuk hari ini.

Diamnya sibuk mengumpulkan sisa-sisa memori yang tergeletak begitu saja dilorong-lorong ingatan. Sudah lama tak tersentuh. Berdebu dan agak usang. Tapi tetap menjadi hal yang kadang berusaha ia jaga.

Seperti air dalam pipa pembuangan yang ditarik sumbatnya. Memorinya muncrat begitu saja.
               
“Mungkin kalo saya nggak pergi waktu itu, kamu nggak akan berakhir disini” sebuah senyum mulai terukir dibirnya. Bukan kenangan indah memang, tapi ia bosan untuk ekspresi sedih. Senyum rasanya pantas.

“ngurusin ‘sampah’ gini” Laki-laki itu mencoba menahan tawanya agar tak menyembur keluar. Geli terhadap keadaannya sendiri.
               
Kamu capek-kan?” pandangan laki-laki itu beralih ke gadis disampingnya. Yang ditatap diam. Gadis itu tidak membantah, tidak juga meng-iya-kan. Ini semua menjadi rutinitas. Kebiasaan yang berputar pada porosnya. Memaksanya untuk terus berjalan.
               
“Mungkin” Cuma jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Ia tidakingin mengingkari. Kadang gadis itu merasa jenuh dengan semua. Memaksakan senyum ceria disetiap pagi. Agar suasananya lebih gembira. Tapi tak pernah berhasil. Sedikitpun tidak.
               
Laki-laki didepannya makin mengembangkan senyum. Merasa puas karna gadis didepannya ini tidak membantah ucapannya. “oke, mulai sekarang kamu bisa berenti” berat, tapi keduanya takbisa apa-apa.
               
“Lalu bagaimana denganmu?” Gadis itu menatap si laki-laki bingung dengan campuran rasa khawatir diakhir kalimatnya.        

                “Aku? Aku akan hidup tentusaja”

                Si gadis makin mengerutkan keningnya, tapi tangannya terjulur ragu dengan semua jari terkepal menyisakan jari kelingkingnya sendirian. Pinky promise.

                “Bahagia?”

                “Bahagia” Laki-laki itu mengaitkan kedua kelingking mereka.

                Dari semua itu. Si gadis hanya igin lakilakinya bahagia. Dan mungkin jika sendiri, bhagia itu akan muncul.

Entahlah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar